Kamis, 11 Februari 2016

Makalah dan Proposal KULON PROGO

INOVASI SISTEM PEMBUATAN GARAM SEBAGAI LANGKAH PEMBERDAYAAN LAHAN KERING KECAMATAN PANJATAN MENUJU OPTIMALISASI SUMBER DAYA KELAUTAN DI LAUT SELATAN INDONESIA
Esai Disusun untuk mengikuti Olimpiade Geografi Nasional UGM 2016 dengan tema “ Optimalisasi Sumberdaya Kelautan Dalam Membangun Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia” 

Dibuat oleh : Riyanto ( 9439 ) 
Febrilliant Maulana Husein ( 9413 ) 
 SMA NEGERI 8 YOGYAKARTA Jalan Sidobali 1, Muja – Muju, Umbulharjo, Yogyakarta. Telepon ( 0274 ) 513493. E-Mail : sman8yogyakarta@yahoo.com Website : www.sman8yogya.sch.id 
 YOGYAKARTA 2015 
INOVASI SISTEM PEMBUATAN GARAM SEBAGAI LANGKAH PEMBERDAYAAN LAHAN KERING KECAMATAN PANJATAN MENUJU OPTIMALISASI SUMBER DAYA KELAUTAN DI LAUT SELATAN INDONESIA 
Esai Disusun untuk mengikuti Olimpiade Geografi Nasional UGM 2016 dengan tema “ Optimalisasi Sumberdaya Kelautan Dalam Membangun Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia” 

 Dibuat oleh : Riyanto ( 9439 ) 
Febrilliant Maulana Husein ( 9413 ) SMA NEGERI 8 YOGYAKARTA Jalan Sidobali 1, Muja – Muju, Umbulharjo, Yogyakarta. Telepon ( 0274 ) 513493. E-Mail : sman8yogyakarta@yahoo.com Website : www.sman8yogya.sch.id YOGYAKARTA 2015

           Kecamatan Panjatan adalah salah satu dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Luas Keseluruhan wilayah Kecamatan Panjatan adalah 4.459,2300 Ha atau sekitar 7,61% dari luas Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan Panjatan terdiri dari 11 desa/kelurahan, dan 100 dusun/lingkungan (Ripan Paputungan, 2003). Letak astronomis Kecamatan Panjatan adalah 07⁰ 54’ 19,6” LS dan 110⁰ 10’ 11,9” BT (Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemprov DIY, 2014). Secara geografis Kecamatan Panjatan terletak di sebelah selatan Kabupaten Kulon Progo dengan jarak tempuh 4 km dari ibukota kabupaten. Sedangkan secara administratif Kecamatan Panjatan berbatasan dengan Kecamatan Wates dan Pengasih di sebelah utara,berbatasan dengan Kecamatan Sentolo dan Lendah di sebelah Timur,berbatasan dengan Kecamatan Wates di sebelah barat, dan berbatasan dengan Samudra Hindia di sebelah selatan (Ripan Paputungan,2003). 
      Topografi Kecamatan Panjatan berkarateristik datar sampai berombak, dan berada pada ketinggian 5 m di atas permukaan laut. Sebagian besar lahan didominasi areal tanah kering berpasir dengan luas 2.572,88 Ha terutama terletak di desa Garongan, Pleret, dan Bugel yang terletak di daerah pesisir (Badan Pusat Statitistik Kabupaten Kulon Progo,2008). Tanah kering berpasir yang luasnya lebih dari 50 % terutama pada desa pesisir dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian kering yang yang sangat tidak produktif. Hal ini berdampak pada tingginya presentase keluarga pra sejahtera terutama pada daerah pesisir yang paling banyak lahan keringnya yaitu Desa Garongan sebanyak 19,69 %, Desa Pleret 46,88 %, dan Desa Bugel 50,7 % (Kecamatan Panjatan Dalam Angka /Panjatan District in Figures,2008). Karenanya sangat diperlukan optimalisasi potensi sumber daya di Kecamatan panjatan demi kesejahteraan masyarakat. 
          Masyarakat Kecamatan Panjatan didominasi oleh petani. Kecamatan Panjatan mempunyai lahan seluas 2644,3781 Ha yang merupakan lahan kering berpasir dan lahan tandus. Lahan tersebut digunakan sebagai pertanian lahan kering terutama dekat daerah pesisir. Lahan pasir pantai merupakan lahan marjinal yang memiliki produktifitas rendah karena faktor kemampuan daya simpan air yang rendah, infiltrasi dan evaporasi yang tinggi, kesuburan dan bahan organik serta efisiensi penggunaan air yang sangat rendah sehingga kurang mendukung sebagai lahan pertanian (Kertonegoro, 2001).Lebih mendalam Kecamatan Panjatan didominasi oleh tanah litosol berasal dari batuan induk batu gamping, batupasir, dan breksi/konglomerat, tersebar di Kecamatan Panjatan, Lendah, Sentolo, Pengasih dan Nanggulan dengan total luasan 3.512 Ha (Usaji Maulana,2013). Tekstur tanah litosol pada umumnya berpasir dan banyak mengandung batu serta kerikil,lahan ini kurang cocok untuk pertanian karena unsur haranya sangat kurang (Rika Harini,2014) . Dengan demikian penggunaan lahan sebagai pertanian tidak tepat karena berakibat tidak produktif.                              Kecamatan Panjatan yang terletak dipesisir Laut Selatan Indonesia ini mempunyai potensi besar berupa garam laut yang belum tercemar limbah, dan wilayah Kecamatan Panjatan mempunyai lahan kering yang luas namun belum dimanfaatkan secara tepat. Kemiringan lahan pesisir di Kulon Progo kurang dari 2 % (Usaji Maulana,2013),lahan landai ini diidukung oleh sumber daya kelautan itu sendiri,potensi laut selatan sangatlah tinggi,adapun kelebihannnya adalah memiliki kadar lebih tinggi (3,35%) dibandingkan dengan yang lain seperti Madura (2,6%),Cirebon (2,27%), dan Rembang (2,7%)(Anonim,2014). Kecamatan Panjatan juga memilik curah hujan terendah di Kabupaten Kulonprogo sebesar 118 mm (Badan Pusat Statistika Kabupaten Kulon Progo,2008) dan didukung oleh suhu rata rata pada siang hari yang tinggi sebesar 31,10 C dan kecepatan angin yang lebih dari 5 m/s (Wiwara Sunghening dkk,2012). 
              Hal yang masih menghambat adalah sistem pembuatan garam di Indonesia. Produksi garam oleh petani garam tradisional dilakukan dengan cara proses penguapan air laut pada meja-meja kristalisasi yang dilakukan secara total (penguapan air dilakukan dalam satu areal kristalisasi), sehingga hanya diperoleh garam dengan kadar NaCl yang rendah dan mengandung kadar Ca dan Mg yang relatif tinggi serta cenderung kotor ( PT Garam). Selain itu proses pembuatan garam tradisional memakan waktu kurang lebih 30 hari. Solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memodifikasi proses dalam pembuatan garam : 
1.      Modifikasi Sistem Lahan Garam Tambak garam rakyat umumnya terdiri dari petak penampungan (tandon), petak penguapan air (petak evaporasi) dan petak produksi garam (petak kristalisasi). Perbandingan luasan sedikit bervariasi, namun secara umum perbandingan masing-masing sekitar 2 : 1 : 1. (Yunus Mintarso,2007). Petak kristalisasi yang terlalu kecil menjadikannya tidak produktif yang memakan waktu 10-15 hari. Perluasan petak kristalisasi menjadi lebih dari 50 % akan mempercepat proses kristalisasi sehingga lebih produktif. Sedangkan untuk petak tandon yang terlalu besar di atasi dengan penggabungan petak penampungan antar petani dan untuk petak evaporasi sebaiknya kurang dari 40 % karena nantinya akan dipasang solusi pemercepat penguapan. Selain itu pembuatan garam rakyat umumnya tanpa petak penampungan air tua sehingga proses pada petak kristalisasi sering terhenti. Pembuatan petak penampungan air tua hasil dari petak evaporasi diperlukan agar selalu tersedia air tua untuk kolam kristalisasi. Pembuatan petak ulir dan pengurangan kedalaman air laut juga diperlukan. Ulir dibuat berbentuk petakan-petakan kolam tanah yang berkelok-kelok dengan dasar yang tidak rata untuk membuat arus air secara alami sehingga terjadi proses penguapan yang di bantu cahaya matahari dan angin,dengan adanya ulir ini diharapkan dapat mempercepat waktu penuaan air laut sehingga proses produksi dapat lebih singkat (Sukino Subiyantoro,2012). Pengurangan kedalaman air diperlukan karena,untuk penyinaran matahari yang sama maka akan lebih banyak menaikkan temperatur air yang dangkal dari pada yang dalam, hingga evaporasi pada air yang dangkal lebih banyak (Umboro Lasminto). 
2.       Filtrasi Saluran Air Laut Air laut yang masih kotor membuat mutu garam yang dihasilkan masih rendah. Karenanya dibutuhkan proses filtrasi. Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, dimana zat padat itu tertahan (Arif Wibowo,2012). Filtrasi yang diterapkan adalah filtrasi sederhana. Filtrasi secara sederhana merupakan proses pemisahan dengan menggunakan alat dan bahan yang mudah ditemui dalam kehidupan. Bahan yang dapat digunakan sebagai media penyaringan antara lain pasir, ijuk, kerikil, arang, dan batu (Agustini, 2010) . Media penyaringan tersebut disusun secara horizontal dan dipasang pada saluran utama air laut dan saluran menuju lahan penguapan. 
3.        Maksimalisasi Energi Matahari Proses pembuatan garam rakyat sangat bergantung pada panas matahari sehingga diperlukan panas matahari yang maksimal agar lebih produktif,solusinya dengan kolektor surya. Kolektor surya dapat didefinisikan sebagai sistem perpindahan panas yang menghasilkan energi panas dengan memanfaatkan radiasi sinar Matahari sebagai sumber energi utama. Ketika cahaya Matahari menimpa absorber pada kolektor surya sebagian cahaya akan dipantulkan kembali ke lingkungan, sedangkan sebagian besarnya akan diserap dan dikonversi menjadi energi panas(Afris Ramadhi,2014). Dengan menggunakan kolektor surya panas matahari yang diterima akan lebih banyak. Kolektor surya dibuat berbentuk setengah tabung dari lempeng seng dan ditempatkan pada sisi kolam penguapan. Panas dari kolektor surya disalurkan kedasar petak evaporasi melalui lempengan seng yang disusun selang seling. Lahan penguapan dibuat dengan lantai karena lempeng seng tidak dapat dipasang pada lahan tanah. Petak evaporasi serta lempeng seng tadi kemudian dicat hitam agar daya penyerapan panas matahari semakin meningkat. Karenanya luas petak evaporasi yang sudah dimodifikasi kurang dari 40 % agar pembuatan kolam lantai dan pemasangan kolektor surya tidak terlalu memakan biaya. 
4.          Terpal Hitam Lahan Kristalisasi Proses pada lahan kristalisasi merupakan proses akhir dari pembuatan garam yang menentukan produktivitas garam. Pada pembuatan garam tradisional terdapat masalah yang menghambat produktivitas seperti lahan kristalisasi yang terlalu kecil,peresapan air ke dalam tanah, dan lambatnya proses kristalisasi. Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan air laut kedalam tanah yang di peminihan ataupun di meja (Dini Purbani,2009). Penggunaan terpal hitam dapat mencegah proses peresapan, lebih ekonomis karena sistem garam modifikasi menjadikan luas lahan kristalisasi lebih dari 50 %, dan warna hitam adalah warna yang paling efektif menyerap panas. 
5.           Listrik Air Laut Petani garam menggunakan kincir angin sebagai alat pompa air. Tetapi kincir angin yang telah ada ini tidak dapat beroperasi pada kecepatan angin rendah (PPAN Rahajeng,2012). Kincir angin kurang efektif karena hanya bisa pada siang hari dan tergantung pada kecepatan angin. Air laut adalah larutan elektrolit sehingga bisa menghasilkan listrik yang dapat mengerakkan mesin kincir tegangan rendah sampai menengah. Listrik didapat dari air laut yang ditampung pada kolam dengan kedalaman 50 cm yang luasnya dapat disesuaikan. Pada kolam dipasang elektroda positif dan negatif, dikarenakan perbedaan potensial antara katoda dan anoda maka listrik akan mengalir. Percobaan oleh Sastroamidjojo, Ph.D dengan air laut 400 liter dihasilkan 12 volt. Tegangan dapat diperbesar dengan penambahan jumlah air laut dan kepekatannya. Saat elektroda jenuh dengan natrium dan klorida karena proses redoks, maka tidak bisa menarik ion natrium dan klorida lagi. Agar berfungsi kembali, elektroda dicelupkan ke dalam air murni, maka garam pada elektroda akan terlepas ke dalam air kemudian dipasang pada air laut yang baru Selain bisa sebagai penggerak kincir berarus DC yang digunakan untuk pompa air,angin dari kincir bisa diarahkan ke atas lahan penguapan sehingga mempercepat penguapan. Jika dibutuhkan tegangan yang besar maka arus DC bisa diubah menjadi arus AC menggunakan inverter. 
           Kelima inovasi pembuatan garam tersebut pada akhirnya diharapkan dapat diimplementasikan sebagai upaya optimalisasi sumber daya kelautan dengan memanfaatkan lahan luas tidak produktif di Kecamatan Panjatan dan kualitas tinggi air Laut Selatan Indonesia, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kecamatan Panjatan. Untuk menggapai hal tersebut tentunya harus diiringi dengan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat 

DAFTAR PUSTAKA 
Agustini, Sri. 2010. Pengembangan Rancangan PIKAB (Pasir, Ijuk, Kerikil, Arang,dan Batu).http://lib.uinmalang.ac.id/files/thesis/fullchapter/03540009.pdf diakses Minggu 6 Desember 2015 Pukul 16.00 WIB Anonim.2014.Nelayan Mulai Lirik Produksi Garam.http://www.radarjogja.co.id/blog/2014/03/20/nelayan-mulai-lirik-produksi-garam/diakses Rabu,9 Desember 2015 Pukul 5.13 WIB Anonim.2014.Sosialisai Pembuatan Garam.http://uad.ac.id/content/sosialisasi-pembuatan-garam diakses Rabu, 2 Desember 2015 Pukul 16.00 WIB Badan Pusat Statitistik Kabupaten Kulon Progo.2008.Kabupaten Kulon Progo Dalam Angka 2008 / Kulon Progo Regency in Figures.http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/kulonprogoda08.pdf diakses pada Jumat, 11 Desember 2015 Pukul 19.09 WIB Badan Pusat Statitiska Kabupaten Kulon Progo.2008.Kecamatan Panjatan Dalam Angka /Panjatan District in Figures. http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/panjatanda08.pdf diakses Selasa 8 desember 2015 Pukul 20.56 WIB Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah DIY.2014.Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintah Provinsi DIY. https://kependudukanpemdadiy.files.wordpress.com/2014/08/kab-kulonprogo.pdf diakses Rabu, ‎9 Desember ‎2015 Pukul ‏‎11:37 WIB Hartini,Rika dkk.2014.Kompetensi Dasar Olimpiade Sains Nasional Geografi.http://geo.ugm.ac.id/main/wp-content/uploads/2015/01/b1-pdf-rika.pdf diakses Selasa, 10 ‎Desember ‎2015 9:44 WIB Kertonegoro, B. D. 2001. Gumuk Pasir Pantai Di D.I. Yogyakarta : Potensi dan Pemanfaatannya untuk Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Untuk Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.Yogyakarta : Universitas Wangsa Manggala. Maulana,Usaji.2013.Kajian Strategi Pengembangan Kawasan Dalam Rangka Mendukung Peningkatan Daya Saing Antar Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. http://eprints.uny.ac.id/16191/5/6.%20BAB%20IV.pdf diakses Selasa, 10 ‎Desember ‎2015 Pukul 12:35 WIB. Mintarso,Yunus.2007.Evaluasi Pengaturan Waktu Peningkatan Salinitas Pada Kualitas Produksi Kista Artemia.http://dokumen.tips/documents/yunusmintarso.html diakses Minggu, 6 Desember 2015 Pukul 15.00 WIB Paputungan,Ripan.2003.Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah Kabupaten Kulonprogo Propinsi D.I Yogyakarta. http://core.ac.uk/download/files/379/11714870.pdf diakses Rabu, ‎9 Desember ‎2015 ‏‎Pukul 11:37 WIB Pranggono,Bambang.2006.Ada Dpa Dengan Lautan.https://books.google.co.id/books?id=-iOba2VVhe8C&pg=PA60&lpg=PA60&dq=Percobaan+oleh+Sastroamidjojo,+Ph.D+dengan+air+laut+400+liter+dihasilkan+12+volt diakses Jumat, 4 Desember 2015 Pukul 22.01 WIB PT.Garam.Profil Perusahaan.http://www.ptgaram.com/about.php diakses Rabu, 9 Desember 2015 Pukul 05.00 WIB Purbani, Dini. 2009. Proses Pembentukan Kristalisasi Garam.https://www.scribd.com/doc/183388541/Proses-Pembentukan-Kristalisasi-Garam-pdf diakses Senin, 7 Desember 2015 Pukul 22.00 WIB Rahajeng,Parawita Prapanca Aswari Nurul.2012.Kincir Angin Bambu dan Kain Untuk Memompa Air di Tambak Garam.http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/597/2/T1_192006030_Full%20text.pdf diakses Senin, 7 Desember 2015 Pukul 22.07 WIB Ramadhi,Afris.2014.Pengaruh Luas Tangkap Reflektor Terhadap Kinerja Kompor Tenaga Surya Tipe Parabolik.http://digilib.unila.ac.id/5447/2/ABSTRAK.pdf diakses pada Senin,7 Desember 2015 Pukul 21.07 WIB Subiyantoro,Sukino.2012.Proses Produksi Garam.http://dokumen.tips/documents/112919221-proses-pembuatan-garam.html diakses Minggu, 6 Desember 2015 Pukul 15.10 WIB Sunghening,Wiwara dkk.2012.Pengaruh Mulsa Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Kacang Hijau (Vigna Radiata L. Wilczek) Di Lahan Pasir Pantai Bugel, Kulon Progo.http://download.portalgaruda.org/article.php?article=2571&val=291 diakses Rabu, 9 Desember 2015 Pukul 17.03 WIB Umboro Lasmino.IV - 1 Modul 4 Evaporasi Dan Transpirasi.https://www.scribd.com/doc/30876042/MODUL-4-Evaporasi-Dan-Transpirasi diakses Kamis,10 Desember 17.09 WIB Wardayati,K Tatik.2014.Listrik dari Air Asin.http://intisari-online.com/read/listrik-dari-air-asin diakses Jumat, 4 Desember 2015 Pukul 22.07 WIB Wibowo,Arif.2012.Pengaruh Waktu Pengadukan Dan Pengambilan Sampel Larutan Caco3 1% Terhadap Jumlah Endapan Pada Alat Filter Press.http://core.ac.uk/download/files/379/11735468.pdf diakses Minggu, 6 Desember 2015 Pukul 15.55 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar